Showing posts with label bujang kirai. Show all posts
Showing posts with label bujang kirai. Show all posts

Monday, 11 March 2019

Ibrahim Chanan - Pemusik Asal Tegal


Kegiatan seni musik di kota Tegal jika dibanding dengan keadaan remaja pada sekitar sepuluh tahun yang lalu benar-benar sangat memprihatinkan. Betapa tidak, kenyataan ini sungguh tak masuk akal sama sekali, sebab pada sekitar ramainya musisi muda bergelut dengan kehidupan musik gaya Shadows,  Beatles maupun Stones Jagger, kota teh poci ini boleh dibilang kota paling doyan musik jenis import.

Bahkan pada tahun-tahun menjelang lahirnya Orde Baru, di sana tercatat ada empat buah band dengan peralatan serba luxus untuk ukuran tahun enampuluhan. Mereka adalah band Bahana Combo, Refalado, Shinta Rama dan band Shinta. Waktu itu yang namanya drum Premier cukup mewah untuk sebuah kelompok pemusik, dan keempat band itu masing-masing memiliki peralatan drum bermerk sama, Premier.

Pengaruh pemusikpemusik asal  Bandung yang sering manggung di kota ini sungguh terasa sekali, terutama dua grup band yang kala itu kondang namanya, Delimas dan Rhapsodia. Keduanya lebih condong beraliran musik Beatles dan Stones yang menggebu-gebu itu. Di antara musisi yang paling menonjol permainannya, termasuk jagoan menjiplak lagu tanpa salah sedikitpun, tercatat nama Ibrahim Chanan, seorang pemuda yang konon masih keturunan Minang dan Jawa. Ia telah terjun ke dunia musik sejak meledaknya penyanyi rock almarhum Elvis Presley.

Pada  tahun 1955 ia bergabung pada sebuah band gaya Amerika yang dikenal dengan nama Melodia Boys pimpinan bung Suyud. Perjalanan karir musiknya dilanjutkan dengan kelompok Bujang Kirai yang lebih condong pada lagu-lagu pop Minang, memang kala itu khasanah musik di tanah air lebih bergairah kepada musik jenis perkusif berirama chacha termasuk irama band Taboneo yang cukup kondang namanya.

Itu terjadi di tahun 1958, hingga akhirnya terbentuk formasi gres dalam wadah Bahana Combo pimpinan Murtomo Maksum yang keluarga musisi. Tetapi, itu hanya bertahan sekitar lima tahun, mengingat perubahan aliran musik yang begitu drastis sebab keinginan anggauta berbeda-beda. Ada yang cinta musik ala Beatles, ada pula yang kurang sreg dengan tuntutan jaman pendobrakan gaya John Lennon al marhum. Akhirnya band ini pun ganti nama dan ganti formasi dengan merubah nama The Fox, sebab saat itu sedang panas-panasnya menggunakan peralatan merk Fox yang konon selangit. Ini ditambah lagi bunyi-bunyian echo circuit plus warna suara elektronik serak hasil efek dari tonebender.

Tapi, band inipun umurnya tidak lama, sebab tahun 1968 Ibrahim terpaksa harus hijrah ke Betawi menuntut karir musiknya yang semakin membengkak. Di kota metropolitan ia sempat memimpin kelompok band Etika Nada, termasuk pula band Destroyer pada awal tahun '70. Setelah itu ia bergabung dengan Arulan selama tiga tahun, dari sana ia bergabung dengan band Papilon bersama Rully Djohan cs.

Bahkan, dalam pengembaraannya ia sempat manggung di benua Kangguru, serta berhasil mengorbitkan nama penyanyi cilik Shinta Suryono, putro Onny Suryono dan Tuty Subardjo bersama Remaco. Aktifitas bersama grup Papilon tampak lebih menonjol, sebab kegiatan rekaman lagu-lagu instrumentalia bersama Rully Djohan yang kakak Erni Djohan cukup baik.

Lagu-lagu nya pop Indonesia yang mereka  rekam selalu dalam aransemen sendiri, juga sering membuat rekaman musik dasar di studio Remaco untuk pengisian acara-acara di teve pada studio Celebrity pimpinan Jack Lesmana. Salah satu lagu karangan Ibrahim pernah dibawakan oleh biduanita Rafika Duri dalam judul Di Senja Ini yang aransemennya diserahkan kepada musisi A. Riyanto, lagu ini termasuk dalam rekaman Rafika volume pertama.

Kehidupan malam di Jakarta yang semarak itu, pernah pula diisinya detygan main musik bersama band-band ternama ibukota. Dari Hilton sampai Kartika Plaza, Flamilfgo dan lain-lain,

MUDIK KE TEGAL
Sebagai seorang musisi kelas lumayan, Ibrahim merasakan betapa kehidupan pemain musik di negeri ini banyak suka-dukanya. Kalau sedang dapat kerja masalah uang tak terlalu sulit, namun bila lagi kosong dunia ini serasa di dalam neraka. Apalagi kalau sudah punya tanggung jawab keluarga, belum bisa dikatakan stabil. Di Jakarta sendiri terdapat berates-ratus band yang tak berhasil menembus dunia rekaman serta mendapatkan popularitas meluas. Apalagi kala itu perusahaan rekaman yang cukup menonjol di Betawi macam Remaco lebih banyak dimonopoli oleh person-person ex Favorite group serta Bartje cs. Sehingga kemungkinan memberikan kesempatan baik kepada artis-artis lain kecil sekali.

Ludwig Labon dari kelompok El Labanos pengorbit band-band Jakarta, komentarnya terhadap lagu-lagu karangan Ibrahim cukup sederhana. Kala itu garapan lagulagunya bila direkam konon masih terlalu pagi untuk telinga pendengar masyarakat kita, sehingga para sponsor rekaman kurang berani mengambil resiko.

Mungkin untuk konsumsi tahun 1981 ini yang materi musik rekaman masa kini lebih banyak penonjolan-penonjolan unsur jazznya, sudah bisa diterima publik. Jumlah lagu-lagu karangan Ibrahim yang baru mendekati angka 25 biji pernah pula dipaksakan untuk mengikuti jalur musik pop yang agak kwacian.

Tapi ia merasa bersyukur bahwasanya era musik di negeri ini telah bisa menerima kehadiran musiknya Chrisye yang banyak terpengaruh oleh aliran Genesis dengan Space Rocknya. Memiliki khord-khord berbobot, dan jenis itupun ternyata sangat disukai oleh remaja masa kini, mengingat pengetahuan musik mereka tambah meningkat.

Manakala ia kembali ke kota kelahirannya, ia merasa kecewa sekali akan perkembangan mutu musik di sana. Jauh ketinggalan bila dibandingkan pada tahun '60an, tampaknya tak ada selera atau kurang darah berolah seni musik. Sebab, tak ada sponsor bonafid yang mau bergabung dengan para musisi remaja, yang menonjol paling juga kelompok vokal group yang paling tidak disukai oleh biangnya puisi mbeling, Remy Sylado. Untunglah, pada suatu ketika ia ditawari oleh seorang sponsor yang mau menjadi penyalur instrumen buatan Yamaha di kota Tegal.

Dari sana dibukalah sebuah sekolah musik lengkap dengan segala peralatannya. Sang sponsor, Pak Purwantono, lantas buru-buru menseminarkan calon guru-gurunya di Yayasan Musik Indonesia Pusat, serta menamakan perusahaannya dengan sebutan Pusat Musik Kalimas.

Ibrahim yang selama ini banyak absen di bidang musik, serta merta seperti kejatuhan durian runtuh. Sebab ia dapat bekerja sesuai dengan keinginan hatinya, diangkat sebagai guru gitar dan staf pemasaran. Bahkan ia punya ambisi ingin mengangkat musisimusisi muda kota Tegal agar lebih kreatif, paling tidak seperti pada tahun '60an atau lebih baikkan. Dengan munculnya sekolah musik yang sekarang ini ada dua buah di kota Tegal. Dan Ibrahim tambah optimis sekali akan perkembangan musisi muda kota teh poci, ke tingkat yang meyakinkan, sebab pada penuturannya kepada AKTUIL ratarata mereka berbakat musik menonjol. (Ipong C )

Disalin dari Majalah AKTUIL, Nomor 3, Tahun XIV, 12 Desember 1981 Halaman 36

Lihat Juga